Our Dreams

Film “Akira Kurosawa’s Dreams” yang (kembali) kunikmati serasa mengingatkan pada satu dari sekian banyak impian yang ingin terwujud.  Serial animasi bertajuk “Our Dreams”.  Kumpulan animasi yang idenya berasal dari mimpi dan impian.  Tak ada batasan durasi. Tak terikat skenario serta storyboard.  Tak harus menerapkan pakem atau prinsip dasar. Tak harus bikin time scheduling serta skala prioritas. Tak harus dijual. Tak harus menguntungkan secara finansial. Tak harus mengikuti rencana semula.🙂 Continue reading

Pala


Pala

Aku selalu senang setiap kali diajak bapak untuk mengantarkan buah Pala kegemaran Maha Patih Gajah Mada. Tak habis rasa takjubku pada bangunan keraton yang sangat megah ini. Para pangeran pun tak semuanya sombong. Banyak dari mereka yang baik hati. Mengajakku bermain bersama, dan terkadang berbagi makanan yang sangat lezat. Continue reading

Lapangkan Jalan Kami

Lapangkan jalan kami (part 01)

baik yang telah hidup

maupun yang masih mati

Lapangkan jalan kami

baik yang telah terbangun

maupun yang masih tertidur

Lapangkan jalan kami

baik yang telah kembali

maupun yang masih tersesat

Lapangkan jalan kami

baik yang telah ingat

maupun yang masih terlupa

….

Amin & Amanah (Cerita 03)

“Kejutan!”

Usia Amin menjelang lima tahun.  Sejak jauh hari Nenek merencanakan memberikan hadiah tepat pada hari ulang tahunnya.  Nenek menyimpan kejutan itu sangat rapi hingga Amin dan Kakek tak menyadarinya. Sekeping demi sekeping recehan ditabung dari hasil keuntungan jualan gorengan.  Nenek sumringah. Seminggu  lagi saat yang ditunggu akan tiba, dan kado telah siap.Namun Tuhan berkehendak lain.  Nenek wafat, tepat dua hari sebelum saat yang dinanti. Continue reading

Amin & Amanah (Cerita 01)

” Dongeng Nenek “

Keluarga  Amin hanya dua, Kakek dan Neneknya. Ia mengenal sosok Bapak dan Ibu dari cerita Nenek menjelang tidur.

“Bapakmu itu pelaut, ia sedang mengarungi sepanjang samudera, jadi lama baru kembali” kisah Nenek

“Kalau Ibu?” tanya Amin.

“Ibumu…” Nenek menghela nafas panjang sebelum melanjutkan cerita, “Ibumu itu bekerja mengurus taman-taman bunga di negeri seberang. Negeri yang sangat kaya dan indah”

“Kapan kembali?” tanya Amin lagi

Continue reading

Malaka (Bagian 02)

Berjam-jam rasanya telah lewat sejak terakhir aku duduk di atap bus ini. Tak ada sesuatupun yang terjadi, tidak pada diriku, tidak juga pada bus-bus ini. Tapi aku tak tahu pasti karena aku tak pernah melihat waktu. “Waktu?”aku tersadar,”bukankah ada arloji di pergelangan tanganku”, teriakku dalam hati
Angka di arloji cukup jelas terlihat, dan menunjukkan angka satu.
“Satu?”


Tak bisa dipercaya, bukankah berjam-jam telah lewat rasanya.
“Apakah arloji ini rusak?” Continue reading

Malaka (Bagian 01)

Aku terbangun dari tidurku yang tak sengaja di sebuah bus malam antar kota. Dari balik jendela tampak jelas kalau hari belum pagi. Temaram cahaya bulan yang tampak separuh lumayan membantuku untuk bisa melihat sekeliling.
“Ah, aku sendiri rupanya?” sadarku,”kemana orang-orang?”.


Bis ini kunaiki bukan dari terminal, tapi di suatu tempat yang tak jauh dari bawah jembatan layang. Sengaja kulakukan karena ingin memangkas waktu. Jam 1 malam saat itu, terasa sepi, senyap yang berbeda ketika pertamakali aku memasuki bus. Hanya beberapa penumpang saja di kendaraan ini, dan mereka semua tampak tertidur. Tak ada kondektur, hanya sopir yang bersikap dingin di belakang kemudi. Continue reading